MENAFAKURI
RAYAP..!!!!
Alangkah indahnya jikalau
kita mampu mengambil aneka hikmah dari makhluk apapun yang Allah SWT ciptakan
di muka bumi ini. Rayap, misalnya, adalah salah satu
makhluk yang selama ini kita anggap lemah, hina, dan menjijikan. Akan tetapi,
sekiranya kita lebih bijak, maka kita pun akan dapat meluangkan waktu dan
kepedulian kita untuk berpikir tentang peranan dan manfaatnya bagi kita semua,
yang mungkin selama ini sangat terabaikan dari perhatian kita.
Peran rayap tercatat dalam Alquran
terekam saat meninggalnya Nabi Sulaeman a.s. Waktu itu, dengan karunia-Nya
beliau meninggal tatkala berdiri memegang tongkatnya. Luar biasanya lagi, tidak
ada satu makhlukpun yang mengetahui bahwa Nabi Sulaeman telah meninggal. Hingga
suatu peristiwa menunjukkan kematiannya, yaitu ketika beliu jatuh tersungkur
akibat tongkat yang menopangnya hancur dimakan rayap (QS. 34:14). Sebagai
organime pemakan kayu (selulosa), itulah memang sebagian dari misi keberadaan
rayap; makan kayu.
Bagaimana rayap mampu melumat kayu?
Kayu merupakan produk dari tumbuhan. Tersusun dari unit-unit
anhidroglukopiranosa yang bersambungan membentuk rantai molekul. Unit-unit itu
terikat dengan ikatan glikosidik. Sebagai polimer, kayu melimpah keberadaanya
di dunia, terdapat hampir 26,5 x 1010 ton. Manusia memanfaatkannya dalam
berbagai bentuk penggunaan (kertas, kain, bahan bakar, dll) tetapi tak mampu
menggunakannya sebagai sumber nutrisi (makanan). Sebaliknya rayap mampu
mencerna selulosa sebagai sumber nutrisinya.
Manusia sendiri tidak mampu
mencernakan selulosa--bagian berkayu dari sayuran yang kita makan, akan
dikeluarkan lagi--, sedangkan rayap mampu melumatkan dan menyerapnya sehingga
sebagian besar ekskremen hanya tinggal lignin-nya saja. Keadaan menjadi jelas
setelah ditemukan berbagai protozoa flagellata dalam usus bagian belakang dari
berbagai jenis rayap (terutama rayap tingkat rendah: Mastotermitidae,
Kalotermitidae dan Rhinotermitidae), yang ternyata berperan sebagi simbion
untuk melumatkan selulosa sehingga rayap mampu mencernakan dan menyerap
selulosa. Bagi yang tidak memiliki protozoa seperti famili Termitidae, bukan
protozoa yang berperan tetapi bakteria--dan bahkan pada beberapa jenis rayap
seperti Macrotermes, Odontotermes dan Microtermes memerlukan bantuan jamur
perombak kayu yang dipelihara di "kebun jamur" dalam sarangnya.
Makanan utamanya adalah kayu atau
bahan yang terutama terdiri atas selulosa. Dari perilaku makan yang demikian,
dapatlah ditarik kesimpulan bahwa rayap termasuk golongan makhluk hidup
perombak bahan mati yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan
kehidupan dalam ekosistem kita. Mereka merupakan konsumen primer dalam rantai
makanan yang berperan dalam kelangsungan siklus beberapa unsur penting seperti
karbon dan nitrogen.
Dari 2500 jenis rayap di dunia, 200
jenis di antaranya terdapat di Indonesia.
Sembilan koma lima
persen yang ada di Indonesia
tadi justru sangat bersahabat dengan manusia. Sedangkan lima persen rayap lainnya menjadi pengganggu
kehidupan manusia, yaitu jenis Cryptotermes curvidnathas, Schedorhinotermes
Javanica, Macrotermes gilvus, Cryptotermes cynocepha, dan Microtermes
inspiparis. Sikap bersahabat ini karena keberadaan rayap di suatu tempat dapat
menjadi indikator kesuburan lahan di lokasi tersebut. Tiada lain karena rayap
memang mampu menyuburkan lahan yang diringgalinya. Seekor rayap dapat
diumpamakan sebuah bioreaktor yang mampu melumatkan sampah, kayu, kertas dan
bahan lainnya, yang terdapat di dalam dan permukaan tanah.
Uniknya, rayap sebenarnya termasuk
binatang purba karena sudah ada sejak 200 juta tahun silam, diduga lebih tua
dari manusia. Dari waktu ke waktu jumlah rayap terus meningkat mengingat
peningkatan jumlah rumah karena meningkatnya jumlah penduduk. Ditambah, hutan
sebagai habitat asli rayap, juga mulai berkurang karena dibuka untuk lahan
pertanian dan perumahan. Karena tidak ada ranting sebagai bahan makanan rayap,
maka kusen pintu, jendela, sampai perabot rumahlah yang jadi sasaran.
Dari 4000 jenis kayu yang ada di Indonesia,
hanya sekitar 10 persen saja yang tahan terhadap serangan rayap, diantaranya
kayu ulin, merbau, sengon laut, dan kayu laut. Kayu-kayu tersebut memiliki zat
ekstraktif yang bersifat racun bagi jamur dan rayap. Sebetulnya semua jenis
kayu memiliki zat tersebut, namun zat itu bisa habis tercuci oleh bahan pelarut
umum, seperti air hujan, metanol, air panas, air dingin, alkohol dan
sebagainya.
Terdapat keistimewaan yang luar biasa
dari binatang ini, dari keanekaragaman jenisnya sampai nilai manfaatnya bagi
hidup dan kehidupan. Kemampuan dan nilai manfaat rayap ini, mustahil dijelaskan
dengan serangkaian peristiwa kebetulan sebagaimana anggapan teori evolusi.
Peristiwa kebetulan tidak mampu memunculkan sejumlah mekanisme sempurna ini
secara bersamaan. Manusia, dengan akal dan ilmunya, tidak akan percaya bahwa
peristiwa kebetulan memunculkan desain ini. Rayap telah Allah ciptakan sebagai
bagian dari rancangan seluruh alam ini uamh didesain dengan Maha Sempurna.
Kelebihan nilai manfaat binatang yang
satu ini adalah perwujudan ilmu yang Mahaluas dari Sang Pencipta. Allah,
Penguasa Seluruh Alam, adalah Pencipta segala sesuatu. Dan seluruh makhluk
hidup memperlihatkan tanda-tanda penciptaan sempurna oleh Allah. "Dan pada
penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka
bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini".
(QS. Al-Jaatsiyah [45]: 4) ***
(Sumber : Jurnal
MQ Vol. 1/No.10/Februari 2002)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar