BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Beberapa teori mengenai
masuknya islam ke Indonesia
Sejak awal abad masehi Indonesia sudah ada rute-rute pelayaran dan
perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia
Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar malaka, sejak masa kuno merupakan
wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama hasil bumi yang dijual disana
menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan
India. Ada beberapa teori yang hingga kini masih sering dibahas, baik oleh
sarjana-sarjana Barat maupun kalangan intelektual Islam sendiri. Setidaknya ada
beberapa teori yang menjelaskan kedatangan Islam ke Timur Jauh termasuk ke
Nusantara :
1. Teori Pertama, diusung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan Islam
masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Tempat-tempat
seperti Gujarat, Bengali dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di
Nusantara.
Dalam L’arabie et
les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan teori tersebut didasarkan pada
pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam
pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga mengatakan,
teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah
Nusantara dengan daratan India.
2. Teori kedua, adalah Teori Persia. Tanah Persia disebut-sebut
sebagai tempat awal Islam datang di Nusantara. Teori ini berdasarkan kesamaan
budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk
Persia. Misalnya saja tentang peringatan 10 Muharam yang dijadikan sebagai hari
peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Selain itu, di beberapa
tempat di Sumatera Barat ada pula tradisi Tabut, yang berarti keranda, juga
untuk memperingati Hasan dan Husein.
Teori ini menyakini
Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-13. Dan wilayah pertama yang
dijamah adalah Samudera Pasai.
Sejak zaman prasejarah, penduduk kepulauan Indonesia
dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak
awal abad masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan
Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah Barat
Nusantara dan sekitar malaka, sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi
titik perhatian, terutama hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para
pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara
itu, pala
dan cengkeh yang berasal dari maluku, dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk
kemudian dijual pada pedagang asing. Pedagang-pedagang muslim asal Arab, Persia
dan India juga ada yang sampai kepulauan Indonesia untuk berdagang sejak abad
ke-7M (abad 1 H).
Menurut J.C Van Leur, berdasarkan berbagai cerita
perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni Arab di barat
laut Sumatera, yaitu di Barus, daerah penghasil kapur Barus terkenal. Dari berita Cina diketahui bahwa dimasa dinasti Tang
(abad ke 9-10). Orang-orang Ta-shin
sudah ada dikanton (Kan-fu) dan Sumatera. Ta-shin adalah sebutan untuk
orang-orang Arab dan Persia , yang ketika itu jelas sudah mejadi muslim.
Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat Internasional antara
negeri-negeri di Asia bagian Barat dan Timur mungkin disebakan oleh kerajaan
Islam. Akan tetapi belum ada bukti bahwa pribumi Indonesia di tempat-tempat
yang disinggahi oleh para pedagang muslim itu yang beragama Islam.
Baru pada zaman-zaman berikutnya penduduk kepulauan ini,
tentu bermula dari penduduk pribumi di koloni –koloni pedagang musli itu.
Sumber sejarahYa Shalih yang memberikan kesaksian sejarah yang dipertanggung
jawabkan tentang kembangnya masyarakat Islam di Indonesia, baik berupa prasasti
dan historigrafi tradisional maupun berita asing, baru terdapat ketika “
komonitas Islam “ berubah menjadi kekuasaan.
Sampai berdirinya kerajaan-kerajaan itu, perkembangan
agama Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase yaitu :
Fase
pertama : Singgahnya
pedagang-pedagang Islam dipelabuhanpelabuhan Nusantara, sumbernya adalah berita
Luar negeri terutama Cina.
Fase
kedua : Adanya
komunitas-komunitas Islam di beberapa daerah kepulauan Indonesia sumbernya
disamping berita-berita asing, juga makam-makam Islam, dan
Fase
ketiga : Berdirinya
kerajaan-kerajaan Islam.
2.2 Kondisi dan Perkembangan Agama Islam di Indonesia
Lambat laun
penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh,
daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali
menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia
berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat
persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang
menyebarkan Islam.
Begitu pula berita
dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di
Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab
Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di
Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang
salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti
Maimun. Pada makamnya
tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari
penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad
ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara
besar-besaran. Baru
pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para
pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara
besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah
memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya
beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka,
Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah
campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab.
Pesatnya
Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya
kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti
Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam
mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya
bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang,
tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara
yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.
Dengan masuk
Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan
Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari
pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara
juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut,
Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang
terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani
berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara,
hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus.
Terutama di abad
ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara
disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan
yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama
Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan
perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan
dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam
Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin
beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam
Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit
pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal
datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur
ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka
mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama
seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap
kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama
dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu
contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai
Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda
Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud
Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir
utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M.
Pertempuran besar
yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat,
yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah.
Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon
dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan
Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum
kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin
Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya
kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya
terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi
percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah
terjangkiti gaya hidup Eropa.
2.3
Saluran dan Cara-Cara Islamisasi di Indonesia
Kedatangan islam dan penyebarannya kepada golongan
bangsawan dan rakyat umumnya, dilakukan secara damai. Apabila situasi politik
suatu kerajaan mengalami kekacauan dan kelemahan disebabkan berebutan kekuasaan
dikalangan keluarga istana, maka islam dijadikan alat politik bagi golongan
bangsawan atau pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Apabila kerajaan
islam sudah berdiri, penguasanya melancarkan perang terhadap kerajaan Non Islam. Hal
itu bukanlah karena persoalan agama tetapi karena dorongan politik untuk
mengusai kerajaan-kerajaan disekitarnya. Menurut Uka Tjandrasasmita,
saluransalura islamisai yang berkembang ada 6 yaitu :
1.
Saluaran Perdagangan
Pada taraf permukaan, saluran islamisasi adalah
perdagangan. Sauran islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan
karena para raja dan bangsawan turut serata dalam kegiatan perdagangan, bahkan
mereka menjadi pemilik kapal dan saham. Kesibukan lalu lintas perdagangan pada
abad ke-7 hingga ke-16 membuat pedagang-pedagang muslim
( Arab, Persia dan
India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri dari bagian
barat, Tenggara dan Timur Benua Asia.
Proses
Islamisasi melalui perdagangan ini dipercepat oleh politik oleh beberpa
kerajaan Hindu pada saat itu. Para adipati pesisir berusaha melepaskan diri
dari kekuasaan pemerintah pusat di Majapahit.
2.
Saluaran Perkawinan
Dari sudut ekonomi, para pedagang muslim memiliki status
social yang lebih baik dari pada kebanyakan pribumi sehingga penduduk pribumi,
terutama puteri-puteri bangsawan,tertarik untuk menjadi isteri-isteri saudagar
itu.
Sebelum kawin, mereka di isalamkan terlebih dahulu.
Setelah mereka mempunyai keturunan, keturunan mereka makin luas.akhirnya timbul
kampong-kampung, daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan muslim.
Saluran ini juga lebih menguntungkan jiga pedagang muslim mampu mengawini putri
raja atau adipati.
3.
Saluran Tasawuf
Tasawuf
adalah ajaran ketuhanan yang bercampur dengan hal-hal mistik atau magis dan
diperkirakan para ahli tasawuf masuk ke Indonesia sudah datang sejak abad ke
13, yaitu pada masa perkembangan dan penyebaran ahli-ahli tasawuf dari Persia
dan India yang sudah beragama islam. Pengajar-pengajar tasawuf, atau para sufi, mengajarkan teosofi yang
beranpur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan
menyembuhkan. Diantara mereka ada juga yang mengawini puteri-puteri bangsawan
setempat dengan tasawuf “ bentuk “ islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi
mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama
Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima.
4.
Saluran Pendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan
dan lembaga pendidikan Islam paling tua adalah pesantrenbaik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh
guru-guru agama, kyai- kyai dan ulama-ulama dipesantren atau pondok itu. Calon
ulam’, guru agama dan kyai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari
pesantren, mereka pulang kekampung masing-masing atau berdakwak ketempat
tertentu mengajarkan islam sampai ke pelosok-pelosok daerah.
5.
Saluran Kesenian
Saluran islamisasi malalui kesenian mulai
dari bangunan, seni pahat, ukir, tari dan yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Sebagaian
besar cerita wayang masih dipetik dari cerita mahaberata dan Ramayana, tetapi
didalam cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan islam, kesenian- kesenian lain juga
dijadikan alat islamisasi seperti sastera (Hikayat, Babat dan Sebagainya).
6.
Saluran Politik
Di Maluku dan sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk
islam setelah rajanya memeluk islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja
sangat membantu tersebarnya islam di daerah ini. Disamping itu, baik Sumatera
dan Jawa maupun di Indonesia bagian timur, demi kepentingan politik,
kerajaan-kerajaan islam memerangi kerajaan-kerajaan nonislam. Kemenangan
kerajaan Islam setara politik banyak menarik penduduk kerajaan bukan islam itu
masuk islam.
7. Saluran Dakwah
Gerakan
penyebaran agama islam melalui metode dakwah adalah paling sering digunakan dan
tidak bisa dipisahkan dari peranan wali yang sembilan yang disingkat menjadi
Walisanga.